Thursday, July 19, 2007

bored...

The differences in human opinions always lead to discontent and disputes. We seems to lack the desire to see the whole picture of the end of inter-relationships of human beings. The ego to prove our conviction materialise the invisible thick lines in our society that normally ends in serious repercussions.

The intellectual fraud that we perceive will always be the answer to our salvation.

Wednesday, July 18, 2007

renungan

"Abu Laits As-Samarqandi adalah adalah seorang ahli fiqh yang mashur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara nabi-nabi yang bukan rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, “Esok kau hendaklah keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke Barat. Engkau dikehendaki berbuat :
Pertama : Apa yang engkau lihat (hadadapi), maka makanlah.
Kedua : Engkau sembunyikan.
Ketiga : Engkau terimalah.
Keempat : Jangan engkau putuskan harapan.
Kelima : Larilah engkau daripanya.”
Pada keesokan harinya, Nabi itu keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar yang berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata : “Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tetapi sungguh aneh, suatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan”. Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghadapinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Lalu Nabi itu mengambilnya lalu disuapkan kemulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur Alhamdulillah.
Kemudian nabi itu meneruskan perjalannya, lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya agar disembunyikan, lantas Nabi itu mengali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu menanamkanya semula sehingga tiga kali berturut-turut. Maka berkatalah Nabi itu, “Aku telah melaksanakan perintahmu”. Lalu dia pun meneruskan perjalannya, tanpa disedari oleh Nabi itu, yang mangkuk emas itu keluar semula dari tempat ia ditanam.
Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, “Wahai Nabi Allah tolonglah aku”. Mendengar rayuan itu, dia merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan kedalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku”. Nabi itu teringat pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, ia tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil dilepaskan dari dalam bajunya. Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjanannya.
Tidak lama kemudian, dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya. Lalu dia bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah melalui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi itu kerumahnya.
Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, “ Ya Allah aku telah melaksanakan perintah Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepada ku erti semua ini.
Di dalam mimpi Beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T bahawa :
“Yang pertama engkau makan ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta manahannya maka marah itu akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua, semua amal kebaikan (budi) walaupun disembunyikan maka ia Tetap akan nampak juga.
Ketiga, jika sudah menerima amanah seseorang janganlah kamu khianat kepadanya.
Keempat, jika orang meminta kepadamu maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kamu sendiri berhajat.
Kelima, bau yang busuk ialah ghibah ( menceritakan hal seseorang ), maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah.”
Saudara-saudaraku, kelima-lima perkara ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, Sebab kelima-lima perkara ini sering sahaja berlaku dalam kehidupan diri kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang lain, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahawa kata mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita. Sebab ada sebuah hadis yang mengatakan bahawa di akhirat nanti ada seorang hamba Allah yang terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya “Wahai Allah, bahawa pahala yang kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu”. Maka berkata Allah S.W.T “Inilah adalah pahala orang yang mengata-gata tentang dirimu”. Dengan ini haruslah kita sedar, bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tapi kata mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, janganlah kita mengata hal orang lain walaupun benar melainkan perkara-perkara yang dibenarkan oleh syarak dan agama. "

Gelombang Tujuh

Gelombang tujuh ini ku ceritakan
Gelombang tujuh jadi ingatan
Satu perbahasa ini ku sampaikan
Kepada tengku dan para pimpinan

Gelombang tujuh mesti di rasa
Oleh manusia para pemuka;

Yang pertama rugi dana
Yang kedua badan lelah jua
Yang ketiga berharap ke sana
Ke empat kerja bertambah jua
Yang ke lima dia di caci pula
Ke enam hatinya gundah gulana
Yang ke tujuh di ganggu syaitan

Dia di ganggu itulah ujian
Tujuh hal ini mesti di rasa
Gelombang tujuh itulah maknanya

Kalau semua bisa di lawan
Mendayung perahu selamat di jalan
Kalau ada yang di muafakatkan
Dia diminta jadi pimpinan terdepan

Semisal orang menjadi raja
Gelombang tujuh mesti di cuba
Sungguh payah menjadi raja
Pahit hempedu akan di rasa

Memikirkan rakyat di dalam kampung
Bagaimana agar maju dan beruntung
Merenung sambil bertopang dagu
Menerima tuduhan dari kanan dan kiri
Bagai nabi di zaman bahari

Pendek kata, pendek kata
Kalau jadi pemuka
Siapapun manusianya
Gelombang tujuh mesti di cuba

Kalau tak begitu boleh di kata
Belum boleh jadi pemuka
Begitulah kalam untuk diingat selalu
Kini kusampaikan kepada para tengku

Pantun buat beringat

Pulau pandan jauh ke tengah,
Gunung daik bercabang tiga,
Hancur badan di kandung tanah,
Budi yang baik di kenang juga..

Pergi ke kali mencari gelama,
Sampan kolek putus tali,
Kita berbudi selama-lama,
Dari hidup sampai ke mati..

Lebat daun bunga tanjung,
Berbau harum bunga cempaka,
Adat di jaga pusaka di junjung,
Baru terpelihara adat pusaka..

Bunga cina di atas batu,
Jatuh daunnya ke dalam ruang,
Adat dunia memang begitu,
Sebab emas budi terbuang..

Padi merbuk padi di Acheh,
Hendak di jual di tengah pekan,
Biarlah buruk hatinya kasih,
Orang cantik tak boleh di makan..

Pisau raut dua tiga,
Letak di peti di dalam perahu,
Dalam laut boleh di duga,
Dalam hati siapa tahu..

Cahaya redup menyegar padi,
Ayam berkokok mengirai tuah,
Jikalau hidup tidak berbudi,
Umpama pokok tidak berbuah..

Thursday, July 12, 2007

Theories of Development Economics

Linear stages of growth model

The earliest theory of development economics, the linear-stages-of-growth model was first formulated in the 1950s by W. W. Rostow in The Stages of Growth. This theory focuses on the accelerated accumulation of capital, through the utilization of both domestic and international savings as a means of spurring investment, as the primary means of promoting economic growth and, thus, development.

The linear-stages-of-growth model posits that there are a series of five consecutive stages of development which all countries must go through during the process of development. These stages are “the traditional society, the pre-conditions for take-off, the take-off, the drive to maturity, and the age of high mass-consumption” This theory gave further rise to the Harrod-Domar Model which serves to explain through mathematics the basic assumption that improved capital investment leads to greater economic growth.

This theory has been criticized for not recognizing that, while necessary, capital accumulation is not a sufficient condition for development. That is to say that this early and simplistic theory failed to account for political, social and institutional obstacles to development. Furthermore, this theory was developed in the early years of the Cold War and was largely derived from the successes of the Marshall Plan. This has led to the major criticism that the theory assumes that the conditions found in developing countries are the same as those found in post-WWII Europe.

Structural change theory

Structural-change theory deals with policies focused on changing the economic structures of developing countries from being primarily comprised of subsistence agricultural practices to being a “more modern, more urbanized, and more industrially diverse manufacturing and service economy.” There are two major forms of structural-change theory; W. Lewis’ two-sector surplus model, which views agrarian societies as consisting of large amounts of surplus labor which can be utilized to spur the development of an urbanized industrial sector, and Hollis Chenery’s patterns of development approach, which is the empirical analysis of the “sequential process through which the economic, industrial and institutional structure of an underdeveloped economy is transformed over time to permit new industries to replace traditional agriculture as the engine of economic growth.”

Structural-change approaches to development economics have faced criticism for their emphasis on urban development at the expense of rural development which can lead to a substantial rise in inequality between internal regions of a country. The two-sector surplus model, which was developed in the 1950s, has been further criticized for its underlying assumption that predominantly agrarian societies suffer from a surplus of labor. Actual empirical studies have shown that such labor surpluses are only seasonal and drawing such labor to urban areas can result in a collapse of the agricultural sector. The patterns of development approach has been criticized for lacking a theoretical framework.

International dependence theory
International dependence theories gained prominence in the 1970s as a reaction to the failure of earlier theories to lead to widespread successes in international development. Unlike earlier theories, international dependence theories have their origins in developing countries and view obstacles to development as being primarily external in nature, rather than internal. These theories view developing countries as being economically and politically dependent on more powerful, developed countries which have an interest in maintaining their dominant position. There are three different, major formulations of international dependence theory; neocolonial dependence theory, the false-paradigm model and the dualistic-dependence model. The first formulation of international dependence theory, neocolonial dependence theory has its origins in Marxism and views the failure of many developing nations to undergo successful development as being the result of the historical development of the international capitalist system.

Neoclassical theory
First gaining prominency with the rise of several conservative governments in the West during the 1980s, neoclassical theories represents a radical shift away from International Dependence Theories. Neoclassical theories argue that governments should not intervene in the economy; in other words, these theories are claiming that an unobstructed free market is the best means of inducing rapid and successful development. Competitive free markets unrestrained by excessive government regulation are seen as being able to naturally ensure that the allocation of resources occurs with ergdgthe greatest efficiency possible and the economic growth is raised and stabilized.

It is important to note that there are several different approaches within the realm of neoclassical theory, each with subtle, but important, differences in their views regarding the extent to which the market should be left unregulated. These different takes on neoclassical theory are the free market approach, public-choice theory, and the market-friendly approach. Of the three, both the free-market approach and public-choice theory contend that the market should be totally free, meaning that any intervention by the government is necessarily bad. Public-choice theory is arguably the more radical of the two with its view, closely associated with libertarianism, that governments themselves are rarely good and therefore should be as minimal as possible.

The market-friendly approach, unlike the other two, is a more recent development and is often associated with the World Bank. This approach still advocates free markets but recognizes that there are many imperfections in the markets of many developing nations and thus argues that some government intervention is an effective means of fixing such imperfections

Topics of Research
Development economics also includes topics such as Third World debt, and the functions of such organisations as the International Monetary Fund and World Bank. Many economists in this field are interested in ways of promoting stable and sustainable growth in poor countries and areas, by promoting self reliance and education in some of the lowest income countries in the world. Where economic issues merge with social and political ones, it is referred to as development studies.

Criticisms

Per capita Gross Domestic Product (GDP per head) is used by many developmental economists as an approximation of general national well-being. However, these measures are criticized as not measuring economic growth well enough, especially in countries where there is much economic activity that is not part of measured financial transactions (such as housekeeping and self-homebuilding), or where funding is not available for accurate measurements to be made publicly available for other economists to use in their studies (including private and institutional fraud, in some countries).

Even though per-capita GDP as measured can make economic well-being appear smaller than it really is in some developing countries, the discrepancy could be still bigger in a developed country where people may perform outside of financial transactions an even higher-value service than housekeeping or homebuilding as gifts or in their own households, such as counseling, lifestyle coaching, a more valuable home décor service, and time management. Even free choice can be considered to add value to lifestyles without necessarily increasing the financial transaction amounts. More recent theories of Human Development have begun to see beyond purely financial measures of development, for example with measures such as medical care available, education, equality, and political freedom.

One measure used is the Genuine Progress Indicator, which relates strongly to theories of distributive justice. Actual knowledge about what creates growth is largely unproven; however recent advances in econometrics and more accurate measurements in many countries is creating new knowledge by compensating for the effects of variables to determine probable causes out of merely correlational statistics.

Recent developments

The most prominent contemporary development economist is perhaps the Nobel laureate Amartya Sen. Recent theories revolve around questions about what variables or inputs correlate or affect economic growth the most: elementary, secondary, or higher education, government policy stability, low tariffs, fair court systems, available infrastructure, availability of medical care, prenatal care and clean water, ease of entry and exit into trade, and equality of income distribution (for example, as indicated by the Gini coefficient), and how to advise governments about macroeconomic policies, which include all policies that affect the economy.

Education enables countries to adapt the latest technology and creates an environment for new innovations. The cause of limited growth and divergence in economic growth lies in the high rate of acceleration of technological change by a small number of developed countries. These countries’ acceleration of technology was due to increased incentive structures for mass education which in turn created a framework for the population to create and adapt new innovations and methods. Furthermore, the content of their education was composed of secular schooling that resulted in higher productivity levels and modern economic growth.

References

Todaro, Michael and Stephen Smith. Economic Development. 9th ed. Addison-Wesley series in economics, 2006

Arndt, H.W. Economic Development: A Semantic History. “Economic Development and Cultural Change.” Vol. 29, No. 3. (Apr., 1981), pp. 457-466. Chicago: The Chicago University Press.

Rostow, W.W. The Five Stages of Growth. Development and Underdevelopment: The Political Economy of Global Inequality. 3rd ed. pp. 123-131. Eds. Seligson, Mitchell and John Passe-Smith. Boulder, CO: Lynne Rienner Publishers, 2003.

Further reading

Jomo K.S. (2005), Pioneers of Development Economics: Great Economists on Development, Zed Books - the contributions of economists such as Marshall and Keynes, not normally considered development economists

Gerald M. Meier (2005), Biography of a Subject: An Evolution of Development Economics, Oxford University Press

Gerald M. Meier, Dudley Seers[editors] (1984), Pioneers in Development, World Bank

Jeffrey D. Sachs (2005), The End of Poverty: Economic Possibilities for Our Time, Penguin Books

Ben Fine and Jomo K.S. (eds, 2005), The New Development Economics: Post Washington Consensus Neoliberal Thinking, Zed Books

Peter Griffiths (2003), The Economist's Tale: A Consultant Encounters Hunger and the World Bank, Zed Books

George Mavrotas and Anthony Shorrocks (eds, 2007), Advancing Development: Core Themes in Global Development, Palgrave Macmillan


Easterly, William (2002), Elusive Quest for Growth: Economists' Adventures and Misadventures in the Tropics, The MIT Press

Utusan Malaysia - Projek paip minyak Kedah ke Kelantan sukar, babitkan kos tinggi

Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi berkata, pembinaan saluran paip bagi menyalurkan minyak dari utara ke Pantai Timur Semenanjung dijangka sukar kerana ia merentas banjaran gunung dan melibatkan kos yang tinggi. Sehubungan itu, kata Perdana Menteri, beberapa syarikat yang mengemukakan cadangan kepada kerajaan untuk membina saluran paip itu perlu meneliti pelbagai perkara sebelum memulakan projek tersebut.

Menurutnya, antara perkara yang perlu diberi perhatian ialah pembinaan kemudahan marin di kawasan utara dan Pantai Timur yang dijangka memerlukan pelaburan besar serta kajian terperinci mengenai kesesuaiannya sebagai pelabuhan utama. Selain itu, tambah beliau, analisis perbandingan kos antara penggunaan saluran paip dengan penggunaan kapal pengangkut minyak yang besar untuk membawa minyak dari kawasan utara ke Pantai Timur juga perlu dilakukan. Abdullah berkata, pemerhatian juga harus diberikan terhadap kajian impak ke atas alam sekitar termasuk risiko pencemaran sekiranya berlaku kebocoran saluran paip atau tangki penyimpanan minyak serta kajian impak sosial ke atas penduduk setempat. ‘‘Selain itu, komitmen penggunaan kemudahan yang disediakan oleh pembekal dan pembeli minyak juga perlu memandangkan daya maju projek itu bergantung kepada jaminan pihak terbabit,’’ katanya.

Perdana Menteri berkata demikian dalam jawapan bertulis kepada soalan Dr. Mohamed Hayati Othman (Pas-Pendang) pada persidangan Dewan Rakyat hari ini.Mohamed Hayati meminta Perdana Menteri menyatakan jumlah penduduk yang terpaksa berpindah dari kampung-kampung yang terlibat dalam projek pembinaan loji penapisan minyak di Yan, Kedah dan Bachok, Kelantan serta pembinaan saluran paip minyak merentasi Semenanjung.

Abdullah berkata, secara prinsipnya kerajaan bersetuju dengan konsep yang dicadangkan oleh syarikat-syarikat tersebut berdasarkan ia akan dibiayai penuh oleh pihak swasta. Tambahnya, cadangan yang dikemukakan itu antara lain bertujuan untuk mengurangkan kesesakan dan kemalangan di perairan Selat Melaka.

Tuesday, July 3, 2007

Bina upaya Kelantan untuk maju

Pembinaan keupayaan untuk merangsang dan meningkatkan aktiviti ekonomi adalah penting, termasuk pembangunan modal insan, pengurusan dan organisasi.

Bagi Kelantan ia memerlukan tindakan bersepadu untuk mengintegrasikan ekonominya dengan ekonomi negeri-negeri lain yang sealiran dengan arus pembangunan nasional, menentukan bahawa aliran pertumbuhan ekonominya adalah seiring dengan kadar pertumbuhan negara keseluruhannya.

Jurang perbezaan pendapatan per kapita harus dikurangkan secara berperingkat-peringkat jika tidak dapat dihapuskan sama sekali.

Kini di akhir 2005 nisbah jurang ekonomi negeri Kelantan adalah hampir 1:2.13 dari pendapatan per kapita nasional, iaitu, RM8,247 bagi Negeri Kelantan berbanding RM17,741 bagi Malaysia seluruhnya. Bahkan ada setengah pendapat bahawa jurang berbezaan pendapatan ini adalah lebih besar sehingga 1:3. Ini bererti jika pendapatan purata Malaysia ialah RM17,741, maka pendapatan per kapita negeri Kelantan ialah RM5,912 sahaja.

Di sebalik perbezaan pendapatan ini, ada yang berpendapat bahawa dari segi pariti (atau kuasa membeli), nilai pendapatan Kelantan adalah lebih tinggi dari nilai pendapatan purata Malaysia seluruhnya.

Dengan lain perkataan, orang yang bergaji RM1,000 sebulan di Kelantan adalah sama dengan orang yang bergaji RM3,000 sebulan di Kuala Lumpur, misalnya, oleh kerana kos hidup di Kelantan adalah lebih rendah.

Pembangunan keupayaan mempunyai dua bentuk, fizikal dan sosial. Pembangunan modal insan ialah pembinaan ilmu pengetahuan dan kemahiran dalam semua bidang dikalangan rakyat semua golongan dan status sosial, khususnya dalam bidang sains dan teknologi.

Dari segi pembangunan sektor pertanian, misalnya, penggunaan sains dan teknologi adalah amat diperlukan bagi mempertingkatkan produktiviti dan mempelbagaikan pengeluaran melalui pembaikan tanah, penggunaan alat-alat moden, bahan-bahan hasil penyelidikan dan pembangunan (R&D) selain daripada keupayaan infrastruktur fizikal seperti parit dan tali air dan jalan raya yang berkeupayaan tinggi (yakni yang mampu digunakan oleh kenderaan berat atau trafik yang tinggi, baik barangan atau penumpang).

Jalan raya di kampung-kampung adalah amat penting sebagai kemudahan untuk meningkatkan keupayaan ekonomi luar bandar, menggalakkan kepelbagaian pertanian dan meningkatkan nilai hasil usaha pengusaha-pengusaha kampung dan memperluaskan pasaran hasil mahsul mereka.
Juga penting ialah kemudahan perhubungan darat, laut, udara dan telekomunikasi di antara Kelantan dengan negara-negara jiran seperti Thailand, Kemboja, Laos dan Vietnam dalam konteks kerjasama negara-negara ASEAN dan dasar perdagangannya, iaitu, Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA).

Setidak-tidaknya perhubungan dua-hala harus dipertingkatkan lagi diantara Kelantan dengan selatan Thailand, dan pada masa yang sama mula mengambil inisiatif bagi mendekatkan Kelantan dengan Kemboja, Laos dan Vietnam demi kemajuan ekonomi geo-politik Kelantan.
Perhubungan ini perlu dimulakan dengan penyertaan para pemimpin politik Kelantan, pegawai-pegawai tadbir negeri, pemimpin-pemimpin dewan perniagaan dan perindustrian, persatuan nelayan, persatuan pembatik, persatuan kraf tangan, persatuan peniagawati, persatuan penternak dan juga diantara pensyarah-pensyarah universiti tempatan dengan universiti-universiti di negara berkenaan.

Matlamat terakhirnya ialah memperluaskan perhubungan perdagangan dan pengaliran pelaburan melalui perkenalan individu, pertukaran maklumat dan peningkatan pengetahuan mengenai sistem pentadbiran, organisasi perniagaan, tabiat pengguna, sistem percukaian, undang-undang kastam dan eksais dan imigresen, adat resam dan budaya masyarakat negara-negara jiran yang berkaitan.

Kelemahan-kelemahan ini perlu dihapuskan sama sekali demi mencapai taraf ekonomi dunia maju dan bukan taraf ekonomi dunia ketiga. Perancangan jangka panjang seharusnya memberi pertimbangan ini sebagai satu aliran penggunaan sumber semula jadi Kelantan.

Sehubungan dengan itu, pembangunan modal insan dalam jurusan industri perkapalan dan marin dari semua aspek harus dimulakan sebagai kurikulum universiti tersebut selain dari jurusan sains dan teknologi tinggi yang mampu memajukan industri tani, bioteknologi, nutraseutikal atau bioteknologi makanan, farmaseutikal atau bioteknologi kesihatan, dan aromatikal atau bioteknologi bau-bauan dan wangai-wangian, iaitu, lima bidang ilmu pengetahuan yang akan menjana kadar pertumbuhan ekonomi rakyat Kelantan di masa hadapan selain dari industri perkapalan yang disebutkan diatas.

Di sini kita nampak dengan jelas bahawa cadangan untuk menubuhkan sebuah universiti di Kelantan sewajarnya dilaksanakan juga demi memberi krebiliti kepada Majlis Kemajuan Kelantan (MKK) dan mendapat sokongan para profesional yang berasal dari Kelantan.

Sementara perhubungan jalan raya, perkapalan, penerbangan, telekomunikasi, air dan elektrik memainkan peranan yang amat penting kepada ekonomi geo-politik Kelantan bersamaan dengan negeri-negeri yang berjiran dengannya. Ini bererti Kelantan akan menjadi lebih maju jika kemudahan infrastruktur seperti jalan raya yang berkeupayaan tinggi diadakan secara meluas, bukan sahaja dengan Terengganu, Pahang, Perak, Kedah, Pulau Pinang, Selangor, dan Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur tetapi juga dengan selatan Thailand melalui tiga pintu masuk, iaitu, Pengkalan Kubor, Sungai Golok dan Bukit Bunga dekat Jeli.

Adalah dicadangkan agar Kerajaan membina sebuah lebuh raya 4-6 lorong dari Kuala Lumpur ke Kota Bharu dan Pengkalan Kubor disempadan Thailand sebagai strategi utama memperkecilkan indeks perasingan dan mempertingkatkan proses integrasi ekonomi Kelantan dengan ekonomi negara dan ekonomi serantau ASEAN bermula dengan pelancaran Rancangan Malaysia Kesembilan (RMK-9).

Industri perkapalan akan dapat mempertingkatkan pertumbuhan ekonomi Kelantan dan juga negara-negara jiran di Asia Tenggara oleh kerana Laut China Selatan adalah kaya dengan sumber laut seperti ikan dan makanan laut yang lain, minyak mentah dan gas asli. Kerajaan harus membuat pertimbangan jangka panjang mengenai kemajuan ekonomi Kelantan secara optimum. Proses pemodenan ini adalah amat penting bagi ekonomi Pantai Timur Semenanjung Malaysia.

Sehingga kini masih banyak kampung yang tidak mempunyai jalan raya yang diturap dengan sempurna untuk membolehkan kenderaan berat menggunakannya. Kerajaan yang memerintah sesebuah negeri seharusnya memberi keutamaan kepada kemudahan-kemudahan infrastruktur, bukan sahaja dalam bentuk jalan raya tetapi juga dalam bentuk bekalan air, api, telefon, hospital dan klinik kesihatan demi keselesaan hidup dan peningkatan produktiviti, sosial status dan jati diri, terutama sekali anak-anak mereka dan juga warga emas yang sedang meningkat bilangannya.

Kalau dahulu strategi membuka rancangan tanah besar-besaran adalah diutamakan, di era abad ke-21, pendekatan baru perlu difikirkan. Apa salahnya kita buka minda kita seluas-luasnya untuk mengadakan industri baru seperti perkapalan, pelayaran, pembinaan limbungan kapal, industri ikan laut dalam, pembinaan hidhrofoil overkraf, feri laju, bot berkuasa tinggi, katamaran dan kapal layar di perairan Laut China Selatan dalam konteks pembangunan serantau negara-negara ASEAN.

Jika kita bina ekonomi Kelantan melalui kejuruteraan marin, perkapalan dan pelayaran, perikanan laut dalam dan industri petroleum dan gas, maka prospek untuk membina industri marin dan pelancongan akan terbuka luas

Oleh: WAN YUSOFF WAN ISMAIL